Jakarta, BANTENGPAPUA.COM–PDI Perjuangan memperingati Hari Tani Nasional 2025 dengan menggelar seminar bertajuk “Bumi Lestari, Petani Berdikari, Kembali ke Sawah, Menyemai Masa Depan” di Sekolah Partai, Jakarta Selatan, Rabu (24/9/2025). Seminar ini menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan komitmen politik partai dalam membela kepentingan petani dan memperkuat kedaulatan pangan Indonesia di tengah tantangan global.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang pertanian. Di antaranya Surono Danu, penemu benih unggul MSP yang terbukti meningkatkan produktivitas; Mangontang Simanjuntak, pemulia padi MSP65 sekaligus pendiri Sekolah Pertanian Terpadu; Sumrambah, Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur; serta Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono yang dikenal dengan program keberpihakan terhadap petani di daerahnya. Kehadiran para narasumber ini memperkaya perspektif sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antara ilmuwan, praktisi, petani, dan pemerintah.
Delapan Rekomendasi Pertanian
Dalam forum tersebut, PDI Perjuangan melahirkan delapan rekomendasi utama sebagai langkah konkret menghadapi persoalan pertanian dan pangan nasional:
- Diversifikasi pangan berbasis lokal, untuk mengurangi ketergantungan pada beras sekaligus menghidupkan pangan tradisional nusantara.
- Peningkatan riset bersama BRIN, sehingga inovasi benih, pupuk, hingga teknologi pertanian dapat langsung dirasakan petani.
- Pencegahan alih fungsi lahan, mengingat lahan pertanian produktif terus menyusut akibat industrialisasi dan urbanisasi.
- Akses pembiayaan bagi petani, agar mereka tidak lagi terjerat rentenir dan mampu mengembangkan usaha tani dengan dukungan lembaga keuangan negara.
- Perlindungan harga produsen, untuk memastikan harga jual hasil panen layak dan menyejahterakan petani.
- Penerapan bea masuk impor pangan, sebagai instrumen perlindungan terhadap produk lokal dari banjir impor yang merugikan.
- Penguatan kelembagaan petani, agar petani memiliki posisi tawar yang kuat dalam rantai distribusi pangan.
- Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.
Rekomendasi ini sekaligus menjadi peta jalan PDI Perjuangan dalam mengawal kebijakan pangan nasional agar berpihak pada petani kecil dan menjaga kedaulatan bangsa di bidang pangan.
Hasto Kristiyanto: Pangan adalah Soal Hidup-Mati Bangsa

Sebelum seminar berlangsung, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melakukan dialog langsung dengan kelompok petani di Desa Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi. Dalam kesempatan itu, Hasto menegaskan bahwa isu pangan tidak bisa dipandang remeh.
“Pangan adalah soal hidup-mati sebuah bangsa. Karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan wajib memastikan kesejahteraan petani,” tegas Hasto.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi pangan impor, melainkan harus berdikari dengan menghidupkan sawah, ladang, dan kebun. Pangan lokal, menurut Hasto, adalah identitas sekaligus benteng ketahanan nasional.
Momentum Politik dan Ekologi
Hari Tani Nasional tidak hanya dipandang sebagai peringatan sejarah perjuangan petani, tetapi juga momentum politik untuk memperkuat garis perjuangan PDI Perjuangan di sektor pangan. Dalam konteks global yang ditandai dengan krisis iklim, ketidakpastian rantai pasok pangan, hingga ketergantungan pada impor, PDI Perjuangan menekankan bahwa jalan satu-satunya adalah berdikari dalam pangan.
Seminar ini juga menegaskan pentingnya pertanian berwawasan lingkungan. Istilah “Bumi Lestari, Petani Berdikari” mencerminkan keyakinan bahwa keberlanjutan alam dan kesejahteraan petani tidak dapat dipisahkan. Petani tidak hanya penghasil pangan, melainkan juga penjaga bumi dan ekosistem yang menopang kehidupan bangsa.
PDI Perjuangan dan Agenda Kedaulatan Pangan
Sejak lama, PDI Perjuangan menempatkan isu pangan sebagai bagian dari politik kerakyatan. Dengan memperingati Hari Tani Nasional 2025, partai meneguhkan kembali posisi petani sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
Melalui delapan rekomendasi yang lahir dari seminar ini, PDI Perjuangan berharap arah kebijakan pertanian Indonesia ke depan lebih berpihak pada petani kecil, membuka akses teknologi dan modal, serta melindungi mereka dari eksploitasi pasar bebas.
Seminar ini menjadi bukti bahwa perjuangan partai tidak berhenti pada tataran retorika, tetapi diwujudkan dalam gagasan konkret, riset, advokasi kebijakan, dan aksi nyata di lapangan.
Dengan demikian, Hari Tani Nasional 2025 tidak hanya dirayakan sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai panggilan perjuangan untuk memastikan bahwa bumi tetap lestari, petani semakin berdikari, dan bangsa Indonesia mampu menjemput masa depan dengan kedaulatan pangan yang kokoh.
#PDIPerjuangan
#MenangkanRakyat
#SatyamEvaJayate
#KebenaranPastiMenang
#SolidBergerak







