Di Atas Tanah Kita Berdiri, Dari Desa Kita Mengakar

banner 468x60

Oleh Fransiskus Kasipmabin 

Tanah, Akar, dan Jiwa Bangsa

Sabtu pagi, 4 Oktober 2025, Taman Suropati di Jakarta Pusat berubah menjadi ruang perayaan rakyat. Suara musik, lantunan puisi, dan tawa anak-anak berpadu dengan aroma tanah basah selepas hujan. Di tengah suasana itu, Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan meluncurkan Festival Desa ke-5, dengan tema besar:

“Di Atas Tanah Kita Berdiri, Dari Desa Kita Mengakar.”

Tema itu bukan sekadar slogan. Ia adalah seruan untuk kembali pada akar — pada desa, tempat nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan Pancasila pertama kali tumbuh dan hidup di antara rakyat.

Merawat Akar Kebudayaan Rakyat

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan, Rano Karno, dalam sambutannya menegaskan, festival ini bukan hanya ajang seni, tetapi gerakan kebudayaan rakyat.

“Desa adalah sumber kehidupan bangsa. Dari tanah itulah tumbuh manusia Indonesia yang berkarakter gotong royong. Kita berdiri di atas tanah yang sama, dan dari sanalah akar kebudayaan kita menjalar,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Festival Desa menjadi ruang bagi seniman, petani, pemuda desa, dan komunitas rakyat untuk mengekspresikan pengalaman mereka menjaga tanah, alam, dan budaya. Selama dua bulan — dari 4 Oktober hingga 1 Desember 2025 — festival ini akan menampilkan lomba film pendek, puisi visual, musik rakyat, hingga cerita rakyat kontemporer, yang berpijak pada kehidupan desa hari ini.

Desa sebagai Poros Kebudayaan

Festival ini lahir dari kesadaran bahwa desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi fondasi sosial dan kultural bangsa. Dalam lima tahun terakhir, desa menghadapi tekanan yang berat: ekspansi investasi, perubahan iklim, urbanisasi, dan arus digitalisasi yang menggerus nilai-nilai lokal.

Menurut Aria Bima, Kepala BKN PDI Perjuangan, festival ini menjadi upaya meneguhkan kembali makna desa dalam kehidupan nasional.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Pancasila tidak hanya hidup di gedung-gedung pemerintahan, tapi tumbuh di ladang, di balai desa, di kebun, dan di rumah-rumah rakyat. Dari desa, kita menjaga Indonesia,” katanya.

BKN memandang seni dan budaya sebagai medium perlawanan yang lembut. Di tengah situasi global yang semakin menekan identitas lokal, desa menjadi benteng terakhir yang menyimpan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas.

Piala Megawati: Penghormatan bagi Penjaga Pancasila di Desa

Puncak festival ini akan ditandai dengan Malam Penganugerahan Piala Megawati: Kawal Pancasila dari Desa, pada 1 Desember mendatang.

Penghargaan ini diberikan kepada para kreator dan komunitas desa yang berhasil menghadirkan karya-karya yang menggugah kesadaran nasional, meneguhkan nilai-nilai Pancasila, dan memperjuangkan kemanusiaan dalam kehidupan desa.

Selain Piala Megawati, pemenang juga akan memperoleh sertifikat resmi bertandatangan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, serta hadiah uang tunai.

Namun lebih dari itu, penghargaan ini merupakan simbol pengakuan atas rakyat kecil — petani, pengrajin, perempuan desa, dan anak muda yang menghidupkan kebudayaan dari akar.

Festival sebagai Gerakan Politik Kebudayaan

Sejak pertama kali digelar, Festival Desa selalu memadukan dimensi budaya dan politik kebangsaan. Tahun ini, pesan itu semakin kuat.
Bagi PDI Perjuangan, kebudayaan adalah jantung politik: ia menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar memenangkan kekuasaan.

Dalam setiap penampilan seni, terselip pesan tentang kedaulatan pangan, pelestarian alam, hak atas tanah, dan martabat rakyat desa.
Musik rakyat, film dokumenter, hingga pembacaan puisi menjadi alat untuk menyuarakan realitas pedesaan yang kerap terpinggirkan dari narasi pembangunan.

“Bagi kami, melestarikan budaya desa adalah bagian dari perjuangan ideologis. Tanah bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga sumber makna dan identitas,” ujar seorang panitia dari BKN yang juga aktivis kebudayaan muda.

Suara dari Akar: Desa yang Berkisah

Salah satu peserta dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menuturkan kisahnya saat mengirimkan film pendek berjudul “Sawah di Ujung Jalan Aspal.”
Film itu bercerita tentang perjuangan sekelompok petani mempertahankan lahan mereka dari ekspansi industri.

“Kami tidak punya alat berat atau kekuasaan, tapi kami punya cerita dan kamera. Festival ini memberi ruang agar suara kami didengar,” ujarnya.

Kisah seperti itu menggambarkan esensi dari Festival Desa: menyalakan kembali suara rakyat kecil, bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi membuka percakapan nasional tentang desa dan masa depan Indonesia.

Mengarahkan Masa Depan dari Akar

Seiring perubahan zaman, desa menghadapi tantangan modernisasi dan digitalisasi yang cepat. Namun, justru di sanalah peluang baru muncul.
Festival Desa menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi — tempat nilai lokal bertemu kreativitas muda.

Melalui lomba-lomba digital, dokumentasi video, dan karya audio-visual, BKN PDI Perjuangan berharap generasi muda desa ikut menjaga warisan leluhur mereka dalam bahasa zaman yang baru.

“Kita ingin anak muda bangga menjadi orang desa. Bangga menjaga tanahnya, budayanya, dan sejarahnya,” tegas Rano Karno.

Penutup: Dari Desa, Indonesia Bertumbuh

Ketika festival ini berakhir pada Desember nanti, mungkin yang tersisa bukan sekadar deretan pemenang. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa desa bukan halaman belakang, melainkan pijakan utama bangsa berdiri.

“Di Atas Tanah Kita Berdiri, Dari Desa Kita Mengakar” menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tak akan tegak jika akar budayanya tercerabut.

Karena di setiap desa, di setiap tangan petani dan seniman rakyat, tersimpan kekuatan sejati republik ini — kekuatan yang lahir dari tanah, dari akar, dan dari hati rakyat sendiri.

#PDIPerjuangan
#MenangkanRakyat
#SatyamEvaJayate
#KebenaranPastiMenang
#SolidBergerak

banner 300x250
banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *